Coming Soon. . . . .(^⌣^)


Coming Soon…

Cerita :: Tentang Cinta volume 1

Kumpulan cerpen bersambung saya yang pertama. Entah bagaimana hasilnya. Saya hanya menyampaikan apa yang ada dalam benak saya menjadi tulisan-tulisan seperti ini. Hohoho…

Terimakasih untuk mereka yang pernah ada dalam separuh perjalanan saya, mereka yang memberi pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup saya. Terimakasih untuk lagu-lagu yang menjadi inspirasi saya selama menulis, Dygta (Karena ku sayang kamu), The Rain (Terimakasih, karena kau mencintaiku), Erry (Pagi ini), Numata (Cinta karena terbiasa), D’Masiv (Merindukanmu), Jikustik (Saat kau tak di sini). Juga buku Kado Cinta dari Mirza Maulana atas ungkapan-ungkapan cintanya. Dan sahabat saya yang kini entah berada dimana, Roja, atas puisi-puisinya.

Bandung, September 2010

lisbaniagratia

More

Advertisements

Part 02 of 02 Alifa untuk Aldo


Concept Created :: 07 May 2011

Part 02 Edited :: 15 March 2012

Revision :: 06 August 2012

Section :: [Part 01]

*****************************************************************************

Alifa untuk Aldo

*Temporary*

Dan hati memang yang paling tahu, apa yang bisa membuat seseorang merasa bahagia. Bersama Aldo, Alifa benar-benar merasa nyaman. Gak pernah satu kali pun laki-laki itu membuatnya menangis. Aldo selalu tahu hal-hal yang menjadikan senyum di wajah Alifa terus bertahan seharian. Kemarin setelah lepas menangis, Alifa yakin pasti untuk mengakhiri semuanya.

“Semua harus dituntaskan. Harus.” batin Alifa.

Dulu, ia terlalu terburu-buru menerima cinta Rio, hingga ia pernah merasa sangat bahagia, hingga sekarang ia larut dalam sedih. Rio bukan satu-satunya yang bisa membuat Alifa bahagia. Alifa malah menemukannya dalam jiwa yang lain.

Diana heran melihat Alifa tenang-tenang saja meski kabar tentang Rio tak ada seharian penuh. Justru Rio yang kalang kabut terus bertanya padanya tentang Alifa. Diana sampai merasa bosan menanggapi cowok itu, kesal.

“Kak Rio belum kasih kamu kabar, Fa?”

Alifa menggeleng, tenang sekali. Padahal sebelum-sebelumnya kalau tak ada kabar dari Rio, Alifa bisa murung seharian.

“Dan kamu gak hubungi dia lebih dulu?”

Alifa menggeleng lagi, lalu balas menatap Diana. “Buat apa? Udah punya pacar baru kali dia.”

“Ya, ampun, Faaaa.” Diana melotot. “Punya pikiran darimana kamu?!”

Alifa angkat bahu. “Aku bilang mungkin, kan?” senyumnya.

Diana geleng-geleng kepala, heran. “Kak Rio nanyain kamu terus sama aku.”

“Oh, ya?”

Diana mengangguk. “Kamu masih marah sama dia?”

“Gak juga, sih.” Kata Alifa, benar-benar membuat Diana tak percaya dengan reaksinya.

“Kamu kenapa, sih?”

“Kenapa apanya, Di?” Alifa balik bertanya.

“Akhir-akhir ini kamu aneh, tau.” Jawab Diana.

Alifa menyunggingkan senyum, menatap Diana lurus-lurus. “Udah, ah. Males ngomongin Rio.”

Mata Diana membulat, tak percaya. Biasanya Alifa semangat membahas Rio dengan mata berbinar.

“Jadi kapan, mau kamu kenalin pacar kamu itu sama aku?” Tanya Alifa tiba-tiba. “Atau mau nunggu sampe aku gak sengaja mergokin kalian?”

Diana mendadak bungkam. “Ya, yaaa…”

“Hm?” Alifa memperhatikan gerik Diana yang salah tingkah di hadapannya. “Atau… aku putus dulu sama Rio kali ya, baru kamu kenalin dia sama aku.”

Diana jadi menatap Alifa. “Maksud kamu?”

Alifa cuma senyum. Ia berlalu pergi begitu bel tanda pelajaran berakhir berbunyi.

“Eh, iya, Di.” katanya lagi. “Minggu depan ada rencana jalan sama cowok kamu gak?”

Diana mengerutkan kening. “Emangnya kenapa?”

Alifa angkat bahu. “Siapa tau kita bisa double date. Aku duluan, ya. Daaahh.”

***

More

Part 01 of 02 Alifa untuk Aldo


Concept Created :: 07 May 2011

Part 01 Edited :: 15 March 2012

Revision :: 05 August 2012

*****************************************************************************

Alifa untuk Aldo

*Temporary*

“Aku ga bisa jemput, Fa. Mau jalan nih sama anak-anak.” kata suara dari sambungan telepon Alifa.

“Tapi, kan, Yo,”

“Eh, udah ya, Fa. Aku udah dipanggil, nih. Nanti aku hubungi lagi. Dah, Sayang.”

Tut… Tut… Tut…

Alifa melongo, menatap benda dalam genggamannya. “Hha….” senyumnya masam. Dimasukannya handphone itu dengan kesal ke dalam tas. Bukan kali ini saja Rio membatalkan janji jalan-jalan mereka, dan bukan satu-dua kali juga dia dapati Rio jalan-jalan mesra dengan seorang perempuan yang dia yakin pasti bukan adik atau kerabatnya Rio, tepat saat Rio membatalkan janji mereka. Alifa mendengus. Kemana lagi hari ini mereka pergi, batin Alifa. Namun masalah sebenarnya adalah, sampai kapan dia harus bertahan dengan orang seperti Rio?

“Ngapain kamu?” tanya Aldo. Tepukan tangannya di lengan Alifa terbilang halus sebenarnya, tapi cukup mengagetkan cewek manis yang sedang melamun itu.

‘Kakak?!” Alifa mengelus dada. “Hhh… aku kira siapa.” senyumnya lembut. “Ngapain di sini?”

“Hmmm…” Aldo menyilang kedua tangan di depan dada. “Kebetulan lewat aja, terus mampir sebentar ngecek anak-anak Gepala. Nunggu jemputan?”

Senyum Alifa hilang, ia menggeleng lemah. Mereka diam. Tanpa perlu Alifa katakan pun, Aldo tahu cewek itu sedang kesal. Ditariknya tangan Alifa lembut. “Ikut saya bentar, yuk.”

Alifa susah payah mengikuti langkah panjang-panjang Aldo, “Kemana?”

Aldo menoleh, mengembangkan senyum, memunculkan lesung pipit di pipi kanannya. “Anywhere. Asal kamu senyum lagi.”

Alifa menatap Aldo, sejuk rasanya. Alifa betah memandangi manik-manik kecoklatan itu lama-lama, selalu nyaman menatapnya.

* * More

Day 04 Hai, Anggi!


Yesterday :: [Day 01], [Day 02], [Day 03]

*****************************************************************************

Day 04 Hai, Anggi!

Bayu melihat Anggi duduk sendirian di depan sekre Gepala, sementara pintu ruangannya tertutup. Seiring langkahnya mendekat, Bayu jadi tahu dari wajah perempuan mungil itu betapa ia kesal bukan main. Ingin tertawa, tapi Anggi pasti marah dan lebih bad mood lagi.

“Kenapa, Kak?”

Anggi mendelik, dan Bayu mengerti kenapa Anggi bersikap seperti itu. Genap setahun Bayu resmi menjadi bagian dari Gepala. Dan ini tahun keduanya di SMA.

“Ngapain lo panggil gue pake embel-embel ‘Kak’ segala!”

Bayu menyeringai, menampilkan sederet gigi putihnya. Ia tahu Anggi gak suka dipanggil pakai sebutan ‘Kak’ oleh sesama anggota biasa, tapi kali ini ia sungguh ingin menggoda Anggi.

“Lagi bete, ya? Kenapa?”

Anggi menghela napas. “Diliat juga tau!” ketusnya.

Bayu benar-benar ingin tertawa, gemas rasanya. Ia melihatnya dari kelas tadi, sudah hampir setengah jam Anggi duduk diam di depan sekre, menunggu seseorang datang untuk membuka pintunya. Bayu yakin pasti, Anggi lupa menaruh kunci sekre-nya. Tanpa sadar, tangannya terulur. Menepuk-nepuk halus kepala Anggi.

“Bentar lagi juga bubaran sekolah. Sabar aja.”

Anggi diam. Dan Bayu yang ditatap dengan pandangan setengah heran dan kaget itu, merasakan debaran jantungnya terasa lain. Antara malu, geli, gemas, dan terpesona jadi satu. Campur aduk. Begitu menyadari sikap bodohnya, Bayu spontan menarik tangannya, cepat-cepat mengalihkan pandang ke arah lain.

“Ehm, maaf.” katanya. “Kebiasaan sama adik. Hehe…”

Hening. Dalam hati Bayu menyesal, “Bisa-bisa dia marah lagi, nih.”

Srek. Anggi membuka tasnya lebar-lebar, memasukkan buku yang sedari tadi dipegangnya.

“Pasti pergi, deh…” batin Bayu.

“Nih.”

Di depan Bayu sekarang, terulur sebelah tangan menggenggam cokelat. Bayu menoleh, dan mendapati Anggi menatapnya. Melirik ke samping kiri Anggi, tas selendang itu ada disana. Anggi gak kelihatan bersiap pergi.

“Mau, nggak?” tanya Anggi setengah nyolot.

“Nawarinnya galak gitu, sih… kayak gak niat.”

“Eh…” Anggi jadi salah tingkah dibilang begitu. “Maaf, maaf.” katanya. “Ini, mau nggak?”

Bayu diam, tak menyangka. Setengah kaget mendengar nada lembut dan ekspresi wajah perempuan disampingnya. Bayu belum pernah melihat Anggi yang seperti ini. Anggi memiringkan sedikit kepalanya, menatap Bayu lekat-lekat lebih terlihat penuh harap ketimbang ingin marah, otot-otot pipinya tertarik sempurna membentuk senyum, nada suaranya terdengar sangat lembut.

“Hahahahahaaa…” dan spontan tawa Bayu tak tertahan.

“Iiiihh, apa-an, sih?!” Anggi sendiri jadi ikut-ikutan tertawa, geli sendiri, malu.

“Hahahaa, sorry.” kata Bayu disela tawa. Diambilnya cokelat di tangan Anggi. “Makasih. Hehehe…” Bayu dengan cekatan membuka bungkusan cokelat itu, digigitnya. “Manis.”

“Emangnya sejak kapan Silverqueen rasanya asem?”

“Bukan cokelatnya,” kata Bayu. “Tapi kamu.”

“Hm?”

Sebelum gigitannya yang kedua, Bayu balas menatap Anggi. “Kenapa? Mau?” tawarnya.

More

Two Side Love :: Laras x Nugi


Created :: 10 April 2005

*****************************************************************************

.:… Laras Side …:.

Kesekian kalinya kudengar nama Leta disebut. Hanya Leta, Leta, dan Leta.

“Yang mana sih, Leta?”

“Itu tuh! Yang rambutnya lurus sepinggang. Yang tinggi, putih! Cantik!”

Ya, ya, ya. Leta. Seorang cewek tinggi, ramping, putih, rambut hitam sepinggang… itulah Leta. Yang telah merebut apa yang aku miliki. Mama, papa, kakak, juga adikku. Dia berhasil merebut perhatian semua keluargaku. Merebut hati mereka satu per satu. Hanya Nugi yang kurasa tidak terhasut kemanisan Leta. Nugi itu sepupuku. Yang paling dekat denganku saat ini. Sejak dulu Nugi tak suka cewek overacting.

Leta overacting? Mm… kurasa tidak juga. Dia mudah bergaul dengan siapa saja. Perempuan maupun laki-laki. Hanya saja… pada anak cowok di kelas atau dimana pun… Leta sedikit agresif.

“Kamu cemburu sama Leta?”

Tak jarang kakakku Neil melontarkan pertanyaan itu. Dan sekarang, aku menanggapinya dengan senyum hambar yang belum pernah kutunjukkan padanya sebelum ini. Aku cepat-cepat menutup buku tebal dalam pangkuanku tadi. Buku yang penuh dengan coretan-coretan kekesalanku pada mereka yang lebih pro-Leta. Kutatap lurus manik mata Neil.

“Aku tidak cemburu pada kecantikannya. Aku tidak cemburu pada sikap ramahnya terhadap siapa pun. Aku tidak pernah cemburu pada apa yang ada dalam dirinya, pada apa yang dia tunjukkan dan lakukan. Aku hanya tidak suka jika dia meniru apa yang aku lakukan!” tegasku sambil berlalu dari hadapan Neil.

Kuperhatikan dari sudut mataku. Neil terpaku di sana. Kututup pintu kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang sebenarnya sangat nyaman jika aku dalam keadaan tenang. Aku benar-benar lelah hari ini. Lelah dengan semua pembicaraan tentang Leta.

* * * * *

 Kuhirup udara pagi ini dalam-dalam. Dalam hati aku berharap hari ini tidak ada lagi hal-hal yang berhubungan dengan Leta. Kuambil tas selendang dan jaket di atas meja belajar. Kemudian keluar dari kamar.

Hello miss blue!!”

Sapaan itu rutin diucapkan Neil, namun tidak kali ini. Sesuai dugaanku sebelumnya.

“Tadi malam Leta telfon. Tapi kamu sudah tidur. Makanya, jadi Mama yang ngobrol dengan Leta. Leta cerita banyak lho, Nel. Katanya,”

GREK! Kugeser kursi. Semua mata menatapku, sepertinya heran. Neil kembali memasukkan nasi ke mulutnya begitu kutatap dia. Mama dan papa masih memandangiku, mungkin menunggu aku bicara. Begitu juga Nina yang masih kecil dan tak tau apa-apa. Aku tak bisa membawa serta Nina untuk menambah daftar kekesalanku pada Leta. Nina memang seperti itu pada siapa saja.

“Kenapa, Nela?” tanya mama.

Kusambar jaket dan tas selendang di samping tempat dudukku. Tanpa menjawab pertanyaan mama, aku pergi meninggalkan ruang makan.

“Assalamu’alaikum…” lirihku begitu di pintu.

“Wa’alaikumsalam…”

Kuhentikan langkahku. Sedikit asing mendengar jawaban salamku. Kutolehkan wajah mencari asal suara. Aku tersenyum pada sosok yang bersandar di pintu. Nugi membalas senyumanku.

“Hai, Gi.” Sapaku.

“Kok pagi banget?”

“Mm…” Aku bingung harus jawab apa. Gak mungkin, kan, aku menjawab karena malas mendengar mama bicara tentang Leta?

“Mm… aku ada tugas kelompok. Makanya… akuuu…”

Nugi tersenyum, kelihatan geli mendengar alasanku. Aku tau itu. Kurasa percuma membohongi Nugi.

Nugi menatapku. Dan hanya diam untuk waktu yang lama. Hingga akhirnya kulihat dia menegapkan badan.

“Aku antar sampai sekolah.” ucapnya yang kemudian menarik tanganku.

Ya, ampun! Kenapa… kenapa jantungku berdetak kencang begini?

Kupegangi dadaku. Kurasakan debarannya yang begitu kencang. Nugi melepas tanganku, lalu memutar kunci kontak motornya. Kupegang bahunya, kemudian aku duduk di belakang Nugi. Nugi memberikan satu helmnya padaku. Sesaat kemudian kurasakan angin berhembus membelai leherku. Sejuk rasanya.

* * * * *

  More

Previous Older Entries

Friends of Mine

Muhammad Hidayat's Journey

the will to meaning

Elraud

Asap Menguap

A life of photographs

My kind of creative

Culinary Adventures in the Kitchen

...delicious culinary coexistence.

Sweet And Crumby

Baking, a Love Story

VINTAGE REFLECTION

By Amy Purfield-Clark

Nicole Belopotosky

Everyday Art Blog

The Lotus of Fire

window to my soul

Dody Japanfreak7th

Just like everything about Japan....

Blognya Adi Sumaryadi di WordPress

Contoh Saja Blog di Wordpress

chikasagagratia

ketika cinta bertemu rasa, yang hanya mampu diungkap dalam kata

furahasekai

Lyrics | Translations | Fanfictions | Hobbies

%d bloggers like this: